BREAKING

Thursday, November 21, 2013

SUKA DUKA RAMPI


Nama saya Yuli,saya seorang Bidan desa di desa Tedeboe(desa yang sangat terpencil)tepatnya dikecamatan Rampi,kabupaten Luwu Utara +86 Km dari Masamba pusat kota kabupaten.Untuk menmpuh daerah tersebut transportasi yang bias digunakan hanya ojek dan pesawat terbang yang berkapasitas muatan maksimal 7 orang.untuk ongkos ojek dari kota kabupaten ke kecamatan Rampi berkisar antara 400-500ribu,sedangkan pesawat 115ribu.lama perjalanan ojek sekitar 2malam 3 hari.

.Pada tanggal 18 januari 2007 tepatnya hari jumat saya berangkat ke Rampi untuk ke-2 kalinya dengan menumpangi pesawat DAS yang bermuatan Cuma untuk delapan penumpang saja, bersama suami dan beberapa orang teman,waktu itu saya dalam keadaan hamil 6 bulan.sampai diPuskesmas Rampi,saya harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki +1 hari untuk sampai didesa Tedeboe ( desa yang paling terpencil di kecamatan rampi ).Dan keesokan harinya bersama suami dan teman saya,saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Tedeboe.Kami berangkat pukul 08.00 WITA dan sampai didesa Tedeboe tepat pukul 18.00 WITA.saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa,untuk menggerakan kaki saja aduuuh sakitnya minta ampun,belum lagi kondisi bayi yang saya kandung dalam 2 hari gak bergerak.tapi semua itu mampu sedikit terobati dengan sambutan dari penduduk setempat,mereka sangat ramah walaupun ada beberapa orang yang sedikit heran dengan tingkah laku kami,maklum mereka sangat terisolir,gak ada lampu,gak ada signal yang ada Cuma hutan,hutan dan hutan.sedangkan motor saja masuk didaerah tersebut pertama kali pada bulan mei 2006.

Bulan pertama kami tidak mendapat kendala yang berarti,memasuki bulan kedua,mulailah kami kehabisan bekal ditambah teman saya kembali kekota untuk suatu urusan penting,sedangkan saya memutuskan untuk tinggal sampai usia kandungan saya menginjak 9 bulan.sehari-hari saya Cuma mengandalkan beras sama sayur pemberian dari penduduk setempat,maklum waktu itu saya juga kehabisan uang.

Hari berganti hari,minggu berganti minggu dan bulanpun berganti,Akhirnya tibalah saatnya saya untuk kembali kekota,namun sayang dengan kondisi saya yang sedang mengandung 9 bulan dan keuangan yang tidak mencukupi akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki 28 KM untuk sampai diPKM Rampi.saat itu hujan begitu derasnya,saya berangkat pukul 07.00 WITA bersama suami yang setia menemani tetap berjalan berdua meskipun dengan kondisi pakaian basah kuyup dan kaki sempoyongan kami tetap semangat berjalan ditengah hutan belantara,harapan kami Cuma satu mudah –mudahan kami tiba dengan selamat,

penderitaan berjalan kaki berhenti sampai di PKM Rampi karena bisa dilanjutkan dengan pesawat,Namun sayang seribu kali sayang sesampainya diPKM pukul 19.00 WITA,kami mendapat kabar yang kurang mengenakan”pesawat sudah berhenti beroperasi” (masa kontraknya habis).

Akhirnya saya berunding bersama dokter (dr.Martinus Burapayung) dan para teman –teman yang ada di PKM untuk mencari solusi apakah saya tetap tinggal karna tapsiran persalinan saya sisa dua minggu,atau tetap pulang dan berjalan kaki selama 4 malam 5hari,lalu ada teman yang mengusulkan untuk mengambil jalan pintas (jln potong) 2malam 3hari,setelah saya di buatkan peta / rute perjalanan (jalan pintas) akhirnya saya dan suami saya sepakat untuk melanjutkan perjalanan pulang dengan mengambil jalan pintas (jln potong) jalan yang menghubungkan sul-sel dan sul-teng.yang kira –kira berjarak 45 KM dari kota kaecamatan Rampi.

Esok hari pukul 06.00 WITA saya dan suami saya mulai berjalan terus berjalan setelah naik turun gunung,melewati hutan, menyebrangi sungai. Bergeser 7 KM dari PKM Rampi saya bertemu dua orang pemuda gonrong dan bertato yang kebetulan berasal dari desa tempat saya tugas (Tedeboe) karna mereka juga ingin melewati jalur yang sama akhirnya sya putuskan untuk jalan bersama. setelah jauh berjalan tepat pukul 14.00 WITA kami berempat sepakat untuk berrhenti berjalan istirahat di pondok sekitar 12 KM meninggalka PKM (totahi nama t4 pos terakhir) dan berjalan kembali besok pagi,tidak mungkin kami melanjutkan perjalanan karna setelah pondok itu tidak ada lagi pondok (pos terakhir) dan purutku juga terasa sakit sekali,sesekali ku elus sambil meneteskan air mata dan terus berdoa mudah-mudahan jabang bayi yang ada dalam perutku ini sehat.tak terasa telah dini hari tepat pukul 4.00 dini hari saya dan teman2 membuat bekal selama dalam perjalanan,setelah semuanya beres kami mulai berjalan.diantara perjalanan itu saya terhibur dengan canda tawa teman – teman seolah-olah rumah saya sudah dekat,tapi yang membuat saya sedih berjalan sambil menangis ketika teman tak sengaja menyanyikan lagu Iwan fals judulnya IBU liriknya seperti ini Ribuan kilo jalan yang kau tempuh lewati rintangan demi anakmu tercinta,walau tlapak kaki penuh darah penuh nanah dsb…mendengar lagu itu entah mengapa air mata saya menetes dan tak bias tertahankan.

kira-kira pukul 13.00 WITA saya dan teman2 telah sampai di puncak gunung dan sudah memasuki wilayah SUL-TENG kami beristirahat sejenak meluruskan kaki,makan siang dll setelah itu kami melanjutkan perjalanan .dan singkat cerita kami telah melewati 45 KM dari Kec Rampi dan sudah lepas dari hutan tiba di desa pertama yaitu desa……. Di kec : Bada, Kab : Poso, Prov : SUL-TENG pukul 20.30,karna kami tidak punya sanak saudara akhirnya kami melapor ketokoh masyarakat yang ada di desa (seorang pendeta) dan dia mau menerima kami untuk istrahat sampi besok pagi .

Perjalanan belum berakhir tapi kami harus berpisah dengan teman karna mereka ingin melanjutkan perjalanan tetap jalan kaki menuju kota palu,tapi karna saya dan suami saya tidak sanggup lagi berjalan akhirnya saya dan suami saya putuskan menumpangi sebuh mobil Hartop open cap dengan ongkos sebesar 80 rb pukul 9.30 WITA saya dan suami saya berdiri di belakang karna mobil itu penuh dengan barang jadi saya tidak kebagian tempat duduk,singkat kata lama berdiri pukul 17.00 WITA akhirnya kami tiba di kota Tentena yang berjarak 180km dari kecamatn Bada..Tapi lagi-lagi sayang seribu sayang karana saya terlambat masuk terminal Tentena akhirnya mobil Bus yang melewati kota Masamba (Lutra) sudah pada lewat semua. Dan karna uang yang saya pegang saat itu pas pasan tidak cukup untuk sewa kamar (wisma).dan kebetulan suami saya punya keluarga di kota Palu jadi akhirnya saya putuskan untuk menuju kota palu yang berjarak 400KM dari kota Tentena. sy menumpangi mini bus pukul 18.00 meninggalkan kota tentena menuju kota palu dan tiba di palu pukul 23.00 WITA.disana saya beristrahat selama 3 hari karena saya khawatir keadaan jabang Bayi yang ada dalam perut saya.setelah semuanya agak baikan rasa capek sudah hilang.pukul 17.00 saya dan suami saya terbang menuju makassar kebetulan disana kami di beri ongkos pesawat oleh keluarga suami saya.tiba di bandara Hasanuddin kira – kira pukul 17.50.dari bandara saya masih melanjutkan perjalanan kerumah yang berjarak sekitar 50 KM menempuh perjlanan selama 2 jam tepatnya di Kab Gowa Jln Poros Malino .

Singkat ceritax pada akhirnya Apa yang kami tunggu2 yang telah lama di nantikan akhirnya terwujud dan Pada tanggal 30 April 2007 pukul 19.40 WITA lahir dengan selamat anak laki – laki yang di beri nama oleh kakeknya M.HUSAIN ARIEF .

 Sumber : http://rampi-arief.blogspot.com/

Friday, June 29, 2012

upacara adat perkawinan suku rampi

http://ariefrahmans.wordpress.com/2012/06/29/upacara-adat-perkawinan-suku-rampi-2/


Pernikahan merupakan salah satu cara melanjutkan keturunan dengan berdasarkan cinta kasih yang sah yang selanjutnya dapat mempererat hubungan antara keluarga antara suku dengan demikian hubungan pernikahan itu merupakan jalinan pertalian yang seteguh teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia sehingga dapat dikatakan pernikahan itu wajib.



UPACARA ADAT  ISTIADAT SUKU RAMPI

Suku rampi terletak di  kabupaten  luwu utara. masyarakat rampi memiliki kebudayaan sebagai dasar dalam mengatur tata cara hidupnya, kebudayaan rampi memiliki perbedaan dengan suku – suku lain yang ada di kabupaten luwu utara  demikian juga dengan pelaksanaan pernikahan terdapa perbedaan variasi pelaksanaanya.


SYARAT – SYARAT PERNIKAHAN

Seorang laki –laki yang akan menikah lebih banyak persaratan yang akan di penuhi di bandingkan dengan anak perempuan. seorang laki laki barulah dianggap matang untuk kawin bila ia mampu memperoleh atau mengadakan segala sesatu yang bersangkut paut dengan kebutuhan sehari – hari baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani, penanggung jawab dalam rumah tangga  adalah anak laki – laki termaksuk keamanan dalam rumah tangga.

TATA CARA  MEPPUDU atau NIPUDU (PEMINANGAN atau DILAMAR)

Dalam hal peminangan orang tua laki laki mengadaka kesepkatan dengan orang tua si wanita yang dipilih oleh anaknnya sebagai calonnya setelah itu dimulailah kegiatan kegiatan yang berhubungan antara lain.  Orang tua laki laki membawa Uwahi (kampak), kain hitam dan Lewulu  (kalung). kerumah orang tua si gadis yang akan dilamar dengan di gendong. makna dari benda benda tersebut diatas adalah

1.     Kampak diumpamakan sebagai pertanyaan dan pembuka pintu hati yang  
akan dilamar NIPUDU.
2.    Kain hitam di umpamakam sebagai tanda bahwa anak yang NIPUDU sudah  tidak boleh bergaul terlalu bebas.
3.    Lewulu atau kalung tersebut di umpamakan sudah diikat orang tua    simempelai leleki tersebut

          Setelah melamar atau mepudu sigadis di beri waktu  tiga hari ditanya mau atau tidak mau kalau si gadis menolak di lamar maka barang yang di pakai melamar di kembalikan sebelum tiga hari apabila malewati waktu tersebut maka keluarga si gadis yang dilamar dikenakan denda sesuai yang sudah di tentukan oleh keputusan hadat (ketua adat /kepala suku) tapi bila gadis tersebut merasa mau atau suka maka orang tuanya secepatnya melaporkan kepada keluarga atau orang tua laki-laki dan setelah kedua orang tua dan perempuan sudah sepakat maka  segera mengundang lembaga hadat kampung dan tokoh-tokoh masyarakat untuk membicarakan hari MOTOPU KUMBANG atau acara tukar sarung

          MOTOPU KUMBANG diumpamakan bahwa kedua mempelai sudah resmi menjadi suami istri dan tinggal menunggu  pesta pernikah. setelah acara tukar sarung di sambung dengan menunjuk orang yang sudah dipercaya menjadi panitia pesta
tugas – tugas panitia pesta
  1. mengatur kedua orang tua mempelai
  2. membacakan Pamone atau mahar di depan keluarga pengantin

setelah pesta selesai dilanjutkan dengan acara MODIHA KOTURUA artinya menginjak tempat tidur  istri  tujuanya agar rumah mertua sudah dianggap sebagai rumah sendiri . setelah acara tersebut selesai  di lanjut dengan makan malam bersama dan semua para perangkat desa, toko masyarakat memberi doa restu dan menasehati pengantin supaya lebih mandiri menghadapi rumah tangga baru dan tanggung jawab sebagai suami atau istri,

MEWONA TOMA,ANI

          sesudah makan malam bersama dilanjut dengan  MEWONA TOMA,ANI
 (mengantar pengantin laki-laki kerumah pengantin perempuan, penganti perempuan yang akan dikunjungi tidak boleh keluar kamar sebelum ia di perintahkan keluar , dan sala satu dari pengantar pihak laki – laki membawa Parang daun siri dan buah pinang. Maksud kedatangan pengantin pria .....

-----------------------------
Pakaian Adat Rampi





 
Copyright © 2013 Yuli's Blog
Design by FBTemplates | BTT